PURBALINGGA - Kenaikan tariff akibat harga bbm naik, ternyata tidak hanya terjadi pada kendaraan angkutan
Meski kendaraan mereka tidak menggunakan mesin dengan bahan bakar minyak, namun para becak yang mangkal di depan Pasar Kota Purbalingga, ikut terkena dampak dari kenaikan harga BBM, yaitu melambungna harga kebutuhan pokok, yang membuat beban hidup mereka semakin berat. “Untuk biaya makan selama menarik becak sehari membutuhkan biaya Rp. 10000,- rupiah. Kemarin sebelum BBM naik, untuk biaya makan paling mahal Rp. 7000,- rupiah. Saya terpaksa menaikkan tariff antara Rp. 500,- hingga Rp. 1000,- rupiah tergantung jarak yang ditempuh. Saya orang miskin semakin nga mampu pak,” kata Azhari, salah seorang penarik becak, kepada Klinong, Selasa (27/05).
Sementara itu, bagi para penumpang sendiri kenaikan tariff becak ini dirasakan sangat memberatkan, meski mereka menyadari jika dampak kenaikan harga BBM, sangat dirasakan oleh para penarik becak, apalagi sebagian besar mereka adalah masyarakat dengan ekonomi lemah. “Ya mau gimana lagi, semua ikut naik gara-gara BBM naik, meski cukup memberatkan, tapi saya ikhlas. Terkadang saya memberikan lebih jika yang narik sikapnya baik,” ujar Budi, penumpang becak dari Pasar Purbalingga menuju Alun-alun
Hal serupa juga terjadi bagi kusir dokar, yang tak mau kalah ikut-ikutan menaikkan harga. Kendati mesin penggeraknya adalah kuda, namun para kusir dokar ini juga mengaku dampak kenaikan harga BBM telah menambah beban hidup mereka bertambah berat. “Harga rumput untuk pakan kuda naik, dari Rp. 4000,- menjadi Rp. 6000,- rupiah. Belum lagi harga pakan lainnya,” ungkap Kusnadi, kusir dokar. (IA-27/05)
No comments:
Post a Comment